- Posted by : Joko Mulyono
- on : July 22, 2025
Jurusan listrik kerap
menjadi pilihan terakhir bagi sebagian siswa di sekolah menengah kejuruan. Di
antara beragam jurusan lain yang terdengar lebih populer atau modern, jurusan
ini sering kali dianggap “berat”, “kotor”, atau hanya cocok bagi mereka yang
“tidak punya pilihan lain”. Padahal, di tengah laju revolusi industri dan
transformasi digital saat ini, keterampilan kelistrikan menjadi tulang punggung
dalam berbagai bidang pekerjaan. Dunia
kerja modern justru semakin membutuhkan lulusan jurusan listrik yang terampil
dan siap pakai. Ironisnya, justru ketika kebutuhan terhadap tenaga kerja di
bidang ini melonjak, minat siswa terhadap jurusan listrik masih tergolong
rendah.
Artikel ini ditulis untuk mengedukasi dan memotivasi siswa, orang tua,
serta para pendidik agar melihat kembali jurusan listrik sebagai pilihan masa
depan yang menjanjikan. Bukan hanya sebagai jalan karier, melainkan juga
sebagai sarana untuk membentuk karakter unggul dan mental siap kerja yang
tangguh.
Salah satu penyebab utama rendahnya minat terhadap jurusan listrik adalah
minimnya pemahaman tentang peluang kerja yang terbuka lebar bagi lulusannya.
Banyak calon siswa dan orang tua belum mengetahui bahwa lulusan jurusan listrik
bisa bekerja di berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur, perusahaan
energi, konstruksi, hingga startup teknologi. Bahkan, mereka juga memiliki
peluang besar untuk menjadi wirausahawan di bidang instalasi listrik, service
peralatan rumah tangga, atau pengembang sistem energi terbarukan. Sayangnya,
informasi ini belum tersampaikan dengan efektif di kalangan masyarakat.
Akibatnya, jurusan listrik masih dipandang sempit: hanya tentang memasang kabel
atau memperbaiki stopkontak.
Stereotip ini diperparah oleh anggapan bahwa jurusan listrik hanya cocok
bagi anak laki-laki yang “kuat secara fisik” dan cenderung bekerja kasar.
Padahal, keterampilan di bidang ini menuntut kecermatan, kecerdasan logika, dan
kedisiplinan tinggi. Proyek kelistrikan tidak bisa sembarangan: harus presisi,
sesuai prosedur keselamatan, dan mengikuti perkembangan teknologi. Listrik
bukan sekadar kerja fisik—ia adalah kerja profesional dengan standar tinggi.
Motivasi belajar siswa juga menjadi masalah serius. Banyak siswa masuk ke
jurusan listrik bukan karena keinginan sendiri, melainkan karena terpaksa.
Entah karena nilai akademik tidak mencukupi untuk jurusan lain, atau karena
ikut-ikutan teman. Akibatnya, mereka menjalani proses belajar dengan setengah
hati, tidak memiliki tujuan jelas, dan mudah merasa jenuh. Kondisi ini
berdampak langsung pada prestasi akademik dan mental siswa. Sekolah menjadi
tempat yang tidak menyenangkan, dan jurusan listrik makin kehilangan daya
tariknya.
Namun, masalah ini bukan tanpa solusi. Sekolah memiliki peran strategis
dalam membalikkan keadaan. Salah satu langkah efektif adalah memvisualisasikan
kesuksesan alumni sebagai inspirasi nyata bagi siswa. Sekolah bisa membuat
banner atau pigura berisi foto-foto alumni sukses, lengkap dengan nama, tahun kelulusan,
tempat bekerja, posisi jabatan, serta kontak yang bisa dihubungi. Informasi ini
dapat dipajang di ruang kelas, lorong sekolah, atau media sosial sekolah.
Dengan begitu, siswa dapat melihat secara langsung bahwa orang-orang seperti
mereka bisa berhasil dan memiliki masa depan yang cerah melalui jalur ini.
Lebih dari sekadar gambar, kehadiran alumni secara langsung juga sangat
berpengaruh. Mengadakan sesi motivasi bersama alumni yang telah berhasil dapat
menanamkan nilai kerja keras, tanggung jawab, dan semangat juang kepada siswa.
Alumni yang dulunya pernah duduk di bangku yang sama tentu lebih mudah diterima
sebagai teladan. Mereka bisa berbagi cerita jatuh-bangun, perjuangan belajar,
serta pengalaman di dunia kerja. Nilai-nilai karakter seperti ketekunan,
kejujuran, dan kerja sama tim bisa ditanamkan secara alami melalui interaksi
ini.
Selain itu, pendekatan ini juga membantu siswa menyadari bahwa kesuksesan
tidak datang secara instan. Ia adalah hasil dari proses yang panjang, penuh
tantangan, tetapi sangat mungkin dicapai jika dijalani dengan niat dan usaha
sungguh-sungguh. Perlahan, rasa minder terhadap jurusan
listrik akan bergeser menjadi rasa bangga. Mereka tidak lagi merasa sebagai
“pilihan kedua”, tetapi justru sebagai bagian dari komunitas yang memiliki
keterampilan penting bagi masyarakat.
Harapan dari upaya ini
adalah terbentuknya generasi siswa jurusan listrik yang memiliki gambaran nyata
tentang masa depan mereka. Mereka
tidak hanya tahu ingin menjadi apa, tetapi juga mengerti bagaimana mencapainya.
Semangat belajar akan tumbuh seiring dengan munculnya tujuan hidup yang jelas.
Rasa bangga terhadap jurusan pun menguat, sehingga suasana belajar menjadi
lebih positif dan produktif. Siswa tidak hanya menguasai keterampilan teknis,
tetapi juga membentuk karakter pribadi yang tangguh dan berorientasi pada masa
depan.
Transformasi ini tentu tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi
yang erat antara sekolah, alumni, dan orang tua. Sekolah perlu membuka ruang
yang luas bagi alumni untuk berkontribusi, baik dalam bentuk motivasi, magang,
maupun peluang kerja. Orang tua juga perlu diberi pemahaman bahwa jurusan
listrik bukan lagi tentang pekerjaan rendahan, tetapi tentang keterampilan yang
sangat dibutuhkan di era modern. Perubahan pola pikir ini penting agar siswa
merasa didukung, bukan direndahkan.
Pada akhirnya, jurusan listrik bukan sekadar soal kabel dan arus listrik. Ia
adalah gerbang menuju dunia kerja yang penuh tantangan dan peluang. Ia adalah
ladang untuk menanam karakter, membangun etos kerja, dan menempa masa depan. Dengan dukungan semua pihak, jurusan listrik bisa menjadi
pilihan utama, bukan pilihan terpaksa. Mari kita bersama-sama menyalakan
kembali semangat di jurusan ini. Karena di tangan para siswa hari ini, masa
depan terang itu sedang dirakit dan disambungkan—dengan penuh daya.
Penulis : Joko Mulyono, S.Pd,
Guru Listrik SMK Muhammadiyah 2 Cepu