- Posted by : Joko Mulyono
- on : July 23, 2025
Di tengah arus cepat perkembangan teknologi dan tuntutan dunia kerja yang
semakin kompleks, penguasaan keterampilan praktis menjadi kunci utama dalam
pendidikan vokasi, termasuk di jurusan listrik. Siswa tidak cukup hanya
memahami teori kelistrikan, tetapi juga harus mampu menerapkannya dalam bentuk
karya nyata yang bermanfaat. Jurusan listrik dituntut tidak hanya mencetak
teknisi andal, tetapi juga menciptakan inovator yang mampu berpikir kritis,
kreatif, dan solutif. Sayangnya, tantangan dalam pengembangan kompetensi dan
kreativitas siswa masih sering menjadi penghambat kemajuan. Artikel ini hadir
untuk mengangkat sebuah solusi kolaboratif dan inovatif dalam bentuk pengembangan
trainer Instalasi Motor Listrik (IML) secara mandiri, yang melibatkan seluruh
ekosistem pendidikan, termasuk siswa, guru, dan mitra eksternal.
Permasalahan yang sering dihadapi jurusan listrik di banyak sekolah vokasi
adalah terbatasnya ruang bagi siswa untuk menyentuh aspek mekanik secara
menyeluruh. Fokus pembelajaran sering kali terkonsentrasi pada kelistrikan
murni, seperti instalasi rumah tangga, pengendali motor, atau panel listrik,
namun mengabaikan keterampilan mekanik yang justru sangat dibutuhkan dalam
dunia industri. Kegiatan seperti pengelasan, perakitan kerangka, pengecatan,
hingga penataan komponen sering diposisikan sebagai pelengkap, bukan inti
pembelajaran. Akibatnya, siswa kehilangan kesempatan emas untuk mengasah
keterampilan teknik yang lebih holistik dan mendalam.
Di sisi lain, kreativitas siswa sering terhambat oleh kendala klasik:
keterbatasan dana. Banyak ide cemerlang siswa untuk menciptakan alat peraga
atau prototipe yang relevan terpaksa kandas di tengah jalan karena minimnya
fasilitas dan bahan praktik. Beberapa sekolah memang memiliki anggaran praktek,
namun pemanfaatannya masih belum maksimal. Alat peraga yang tersedia pun sering kali bersifat
pasif, usang, tidak representatif, atau bahkan rusak dan tidak layak pakai. Hal ini tentu menjadi ironi dalam semangat pendidikan
vokasi yang seharusnya menekankan pada praktik nyata dan pengembangan
kreativitas.
Salah satu kebutuhan mendesak di jurusan listrik adalah kehadiran trainer
IML yang berkualitas dan tahan lama. Trainer ini berfungsi sebagai alat bantu
pembelajaran dalam memahami sistem pengendalian motor listrik, baik satu fasa
maupun tiga fasa, termasuk aplikasi kontaktor, thermal overload, dan pengendali
otomatis lainnya. Trainer yang ideal harus representatif terhadap kondisi
industri, mudah dipahami, bisa dioperasikan berulang kali tanpa cepat rusak,
dan tentunya aman digunakan. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa
trainer semacam ini masih sulit dijangkau karena harga belinya mahal dan
keterbatasan dalam pengadaan.
Menjawab tantangan tersebut, salah satu solusi inovatif dan berkelanjutan
yang bisa diambil adalah memproduksi trainer IML secara mandiri menggunakan
dana praktek. Proses ini tidak hanya menekan biaya, tetapi juga memberikan
nilai edukatif yang sangat tinggi. Sekolah dapat mengalokasikan sebagian dana
praktek untuk membeli bahan-bahan pembuatan trainer, seperti rangka besi,
panel, kabel, kontaktor, dan komponen lainnya. Siswa dilibatkan secara aktif
dalam proses desain, perakitan, pengujian, hingga finishing. Proses ini
menumbuhkan semangat kerja tim, pemahaman teknik, serta rasa bangga karena
telah menciptakan sesuatu yang nyata dan bermanfaat.
Langkah ini menjadi semakin kuat ketika sekolah menjalin kerjasama dengan
pihak eksternal seperti bengkel las lokal untuk pembuatan rangka, jasa sablon
untuk desain panel, dan UMKM untuk penyediaan komponen pendukung. Kolaborasi
ini tidak hanya menambah wawasan industri bagi siswa, tetapi juga membuka
jaringan kemitraan yang bisa dikembangkan di masa depan. Sekolah menjadi pusat
inovasi yang terbuka, bukan institusi yang bekerja dalam isolasi.
Paling penting adalah semangat kolaborasi antara guru, siswa, dan mitra
eksternal. Dalam proyek pembuatan trainer IML, guru berperan sebagai
fasilitator dan pembimbing, siswa sebagai pelaksana dan penggagas, sementara
mitra eksternal menjadi pendukung teknis dan praktis. Dengan pendekatan ini,
proses belajar menjadi lebih kontekstual dan relevan. Siswa tidak hanya
“mengikuti pelajaran”, tetapi turut menciptakan solusi. Mereka menjadi pelaku
aktif dalam proses pembelajaran dan penciptaan produk nyata.
Hasil yang diharapkan dari upaya ini sangat strategis.
Pertama, siswa dan guru akan memahami secara menyeluruh proses produksi sebuah
trainer, mulai dari konsep hingga menjadi alat yang siap digunakan. Pengetahuan
ini bukan hanya bermanfaat dalam konteks pendidikan, tetapi juga membuka
peluang usaha berbasis keterampilan. Beberapa siswa bahkan mulai menunjukkan
ketertarikan untuk membuka usaha pembuatan trainer atau alat praktik sederhana
setelah lulus nanti.
Kedua, trainer IML hasil karya siswa ini bisa
dipromosikan melalui media sosial sekolah, pameran pendidikan, hingga kompetisi
inovasi siswa. Keberadaan produk ini memberi identitas kuat pada jurusan
listrik sebagai jurusan yang kreatif, produktif, dan mandiri. Kabupaten Blora,
sebagai lokasi pengembangan, dapat menjadikan trainer ini sebagai produk
unggulan daerah dalam bidang pendidikan vokasi.
Ketiga, adanya trainer buatan sendiri ini memberikan
dampak luar biasa dalam hal kemandirian. Siswa dan guru yang terlibat dalam
proses pembuatannya akan memiliki kemampuan untuk merawat dan memperbaiki alat
ini secara mandiri. Tidak perlu
menunggu teknisi dari luar sekolah atau membeli pengganti jika terjadi
kerusakan. Ketergantungan terhadap pihak luar dapat diminimalkan secara
signifikan, yang pada akhirnya membuat jurusan menjadi lebih mandiri secara
teknis dan finansial.
Proyek ini membuktikan bahwa dengan inovasi, semangat kolaborasi, dan
pemanfaatan sumber daya yang ada, pendidikan vokasi bisa menghasilkan sesuatu
yang luar biasa. Jurusan listrik bukan hanya tentang teori dan praktik dasar,
tetapi tentang bagaimana menciptakan solusi nyata yang relevan dengan kebutuhan
industri dan masyarakat. Pendidikan menjadi ruang hidup yang dinamis, di mana
siswa tidak hanya belajar untuk bekerja, tetapi juga belajar untuk mencipta,
memimpin, dan berkontribusi.
Sudah saatnya kita mendorong lebih banyak sekolah vokasi untuk melakukan
gerakan serupa. Ajak seluruh elemen—guru, siswa, orang tua, dunia usaha, dan
pemerintah daerah—untuk mendukung pengembangan kreativitas dan inovasi siswa.
Dengan langkah ini, kita tidak hanya membentuk tenaga kerja siap pakai, tetapi
juga generasi pembelajar yang siap menghadapi tantangan dunia nyata.
Trainer IML buatan siswa bukan sekadar alat bantu pembelajaran. Ia adalah
simbol dari semangat belajar yang hidup, kolaborasi yang produktif, dan
keberanian untuk menciptakan sesuatu dari keterbatasan. Inilah wajah baru
pendidikan vokasi yang tidak hanya adaptif, tetapi juga progresif. Sebuah
gerakan kecil di ruang praktik yang bisa berdampak besar bagi masa depan.
Penulis : Joko Mulyono, S.Pd,
Guru Listrik SMK Muhammadiyah 2 Cepu