Skip to Content
Loading...
Nur Imamah
Nur Imamah
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Meningkatkan Kompetensi dan Kreativitas Siswa Listrik Melalui Inovasi Trainer IML

 



 

Di tengah arus cepat perkembangan teknologi dan tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks, penguasaan keterampilan praktis menjadi kunci utama dalam pendidikan vokasi, termasuk di jurusan listrik. Siswa tidak cukup hanya memahami teori kelistrikan, tetapi juga harus mampu menerapkannya dalam bentuk karya nyata yang bermanfaat. Jurusan listrik dituntut tidak hanya mencetak teknisi andal, tetapi juga menciptakan inovator yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan solutif. Sayangnya, tantangan dalam pengembangan kompetensi dan kreativitas siswa masih sering menjadi penghambat kemajuan. Artikel ini hadir untuk mengangkat sebuah solusi kolaboratif dan inovatif dalam bentuk pengembangan trainer Instalasi Motor Listrik (IML) secara mandiri, yang melibatkan seluruh ekosistem pendidikan, termasuk siswa, guru, dan mitra eksternal.

Permasalahan yang sering dihadapi jurusan listrik di banyak sekolah vokasi adalah terbatasnya ruang bagi siswa untuk menyentuh aspek mekanik secara menyeluruh. Fokus pembelajaran sering kali terkonsentrasi pada kelistrikan murni, seperti instalasi rumah tangga, pengendali motor, atau panel listrik, namun mengabaikan keterampilan mekanik yang justru sangat dibutuhkan dalam dunia industri. Kegiatan seperti pengelasan, perakitan kerangka, pengecatan, hingga penataan komponen sering diposisikan sebagai pelengkap, bukan inti pembelajaran. Akibatnya, siswa kehilangan kesempatan emas untuk mengasah keterampilan teknik yang lebih holistik dan mendalam.

Di sisi lain, kreativitas siswa sering terhambat oleh kendala klasik: keterbatasan dana. Banyak ide cemerlang siswa untuk menciptakan alat peraga atau prototipe yang relevan terpaksa kandas di tengah jalan karena minimnya fasilitas dan bahan praktik. Beberapa sekolah memang memiliki anggaran praktek, namun pemanfaatannya masih belum maksimal. Alat peraga yang tersedia pun sering kali bersifat pasif, usang, tidak representatif, atau bahkan rusak dan tidak layak pakai. Hal ini tentu menjadi ironi dalam semangat pendidikan vokasi yang seharusnya menekankan pada praktik nyata dan pengembangan kreativitas.

Salah satu kebutuhan mendesak di jurusan listrik adalah kehadiran trainer IML yang berkualitas dan tahan lama. Trainer ini berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran dalam memahami sistem pengendalian motor listrik, baik satu fasa maupun tiga fasa, termasuk aplikasi kontaktor, thermal overload, dan pengendali otomatis lainnya. Trainer yang ideal harus representatif terhadap kondisi industri, mudah dipahami, bisa dioperasikan berulang kali tanpa cepat rusak, dan tentunya aman digunakan. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa trainer semacam ini masih sulit dijangkau karena harga belinya mahal dan keterbatasan dalam pengadaan.

Menjawab tantangan tersebut, salah satu solusi inovatif dan berkelanjutan yang bisa diambil adalah memproduksi trainer IML secara mandiri menggunakan dana praktek. Proses ini tidak hanya menekan biaya, tetapi juga memberikan nilai edukatif yang sangat tinggi. Sekolah dapat mengalokasikan sebagian dana praktek untuk membeli bahan-bahan pembuatan trainer, seperti rangka besi, panel, kabel, kontaktor, dan komponen lainnya. Siswa dilibatkan secara aktif dalam proses desain, perakitan, pengujian, hingga finishing. Proses ini menumbuhkan semangat kerja tim, pemahaman teknik, serta rasa bangga karena telah menciptakan sesuatu yang nyata dan bermanfaat.

Langkah ini menjadi semakin kuat ketika sekolah menjalin kerjasama dengan pihak eksternal seperti bengkel las lokal untuk pembuatan rangka, jasa sablon untuk desain panel, dan UMKM untuk penyediaan komponen pendukung. Kolaborasi ini tidak hanya menambah wawasan industri bagi siswa, tetapi juga membuka jaringan kemitraan yang bisa dikembangkan di masa depan. Sekolah menjadi pusat inovasi yang terbuka, bukan institusi yang bekerja dalam isolasi.

Paling penting adalah semangat kolaborasi antara guru, siswa, dan mitra eksternal. Dalam proyek pembuatan trainer IML, guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing, siswa sebagai pelaksana dan penggagas, sementara mitra eksternal menjadi pendukung teknis dan praktis. Dengan pendekatan ini, proses belajar menjadi lebih kontekstual dan relevan. Siswa tidak hanya “mengikuti pelajaran”, tetapi turut menciptakan solusi. Mereka menjadi pelaku aktif dalam proses pembelajaran dan penciptaan produk nyata.

Hasil yang diharapkan dari upaya ini sangat strategis. Pertama, siswa dan guru akan memahami secara menyeluruh proses produksi sebuah trainer, mulai dari konsep hingga menjadi alat yang siap digunakan. Pengetahuan ini bukan hanya bermanfaat dalam konteks pendidikan, tetapi juga membuka peluang usaha berbasis keterampilan. Beberapa siswa bahkan mulai menunjukkan ketertarikan untuk membuka usaha pembuatan trainer atau alat praktik sederhana setelah lulus nanti.

Kedua, trainer IML hasil karya siswa ini bisa dipromosikan melalui media sosial sekolah, pameran pendidikan, hingga kompetisi inovasi siswa. Keberadaan produk ini memberi identitas kuat pada jurusan listrik sebagai jurusan yang kreatif, produktif, dan mandiri. Kabupaten Blora, sebagai lokasi pengembangan, dapat menjadikan trainer ini sebagai produk unggulan daerah dalam bidang pendidikan vokasi.

Ketiga, adanya trainer buatan sendiri ini memberikan dampak luar biasa dalam hal kemandirian. Siswa dan guru yang terlibat dalam proses pembuatannya akan memiliki kemampuan untuk merawat dan memperbaiki alat ini secara mandiri. Tidak perlu menunggu teknisi dari luar sekolah atau membeli pengganti jika terjadi kerusakan. Ketergantungan terhadap pihak luar dapat diminimalkan secara signifikan, yang pada akhirnya membuat jurusan menjadi lebih mandiri secara teknis dan finansial.

Proyek ini membuktikan bahwa dengan inovasi, semangat kolaborasi, dan pemanfaatan sumber daya yang ada, pendidikan vokasi bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Jurusan listrik bukan hanya tentang teori dan praktik dasar, tetapi tentang bagaimana menciptakan solusi nyata yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Pendidikan menjadi ruang hidup yang dinamis, di mana siswa tidak hanya belajar untuk bekerja, tetapi juga belajar untuk mencipta, memimpin, dan berkontribusi.

Sudah saatnya kita mendorong lebih banyak sekolah vokasi untuk melakukan gerakan serupa. Ajak seluruh elemen—guru, siswa, orang tua, dunia usaha, dan pemerintah daerah—untuk mendukung pengembangan kreativitas dan inovasi siswa. Dengan langkah ini, kita tidak hanya membentuk tenaga kerja siap pakai, tetapi juga generasi pembelajar yang siap menghadapi tantangan dunia nyata.

Trainer IML buatan siswa bukan sekadar alat bantu pembelajaran. Ia adalah simbol dari semangat belajar yang hidup, kolaborasi yang produktif, dan keberanian untuk menciptakan sesuatu dari keterbatasan. Inilah wajah baru pendidikan vokasi yang tidak hanya adaptif, tetapi juga progresif. Sebuah gerakan kecil di ruang praktik yang bisa berdampak besar bagi masa depan.

Penulis : Joko Mulyono, S.Pd,  Guru Listrik SMK Muhammadiyah 2 Cepu

Share

Related Posts

Post a Comment

Confirmation of Closure

Are you sure you want to close this video playback?