Skip to Content
Loading...
Nur Imamah
Nur Imamah
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Menjaga Aset Sekolah Melalui Strategi Pengamanan Barang Praktik yang Efektif

 



 

Di setiap sekolah vokasi, peralatan praktik merupakan denyut nadi dari proses pembelajaran. Di sinilah siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengasah keterampilan teknis yang menjadi bekal penting di dunia kerja. Barang-barang praktik seperti rol kabel, bor listrik, kunci L, hingga berbagai alat ukur memiliki nilai yang tidak hanya tinggi dari sisi biaya, tetapi juga dari sisi fungsionalitas. Sayangnya, di balik intensitas penggunaannya, ada risiko besar yang sering kali diabaikan: kehilangan.

Kehilangan barang praktik di sekolah bukanlah cerita baru. Fenomena ini kerap muncul, mulai dari alat kecil yang tak kunjung kembali setelah dipinjam, hingga barang bernilai mahal yang raib entah ke mana. Ironisnya, peristiwa-peristiwa seperti ini sering kali berawal dari kelalaian kecil yang dianggap sepele, seperti peminjaman tanpa pencatatan atau tempat penyimpanan yang terlalu terbuka. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu proses belajar mengajar, memicu ketidakpercayaan, dan bahkan menimbulkan kerugian finansial bagi sekolah.

Artikel ini hadir sebagai upaya untuk menyampaikan solusi praktis dan sistematis dalam menjaga barang-barang praktik yang rawan hilang. Karena menjaga aset sekolah sejatinya adalah bagian dari menjaga kualitas pendidikan dan keberlanjutan pembelajaran.

Masalah utama yang dihadapi oleh banyak sekolah kejuruan terletak pada tingginya risiko kehilangan barang praktik. Alat-alat seperti rol kabel, bor listrik, kunci L, dan peralatan tangan lainnya digunakan oleh banyak orang—baik guru, siswa, maupun teknisi. Karena sering berpindah tangan dan digunakan secara kolektif, kontrol atas barang-barang ini menjadi sangat lemah. Apalagi jika tidak ada sistem pengelolaan yang baku, maka potensi kehilangan akan terus mengintai.

Salah satu akar permasalahan adalah praktik peminjaman yang masih dilakukan secara lisan. Di banyak bengkel atau ruang praktik, peminjaman alat hanya bermodalkan permintaan langsung. “Pak, boleh pinjam bor?” “Bu, saya ambil kunci L dulu ya.” Tanpa pencatatan, tanpa bukti, dan tanpa pengingat siapa yang terakhir kali menggunakan. Saat barang tidak kembali, sulit untuk melacaknya. Ketika alat raib, tak ada yang bisa dimintai pertanggungjawaban secara jelas.

Lemahnya sistem inventarisasi juga menjadi persoalan serius. Tidak sedikit sekolah yang masih mengandalkan daftar inventaris manual yang jarang diperbarui. Bahkan dalam beberapa kasus, tidak ada inventaris sama sekali untuk alat-alat kecil. Dalam kondisi seperti ini, pencurian bisa saja terjadi—bukan oleh orang luar, tetapi justru dari warga sekolah sendiri yang memanfaatkan celah lemahnya pengawasan.

Permasalahan lainnya adalah barang yang dipinjam tidak selalu dikembalikan ke tempat semula. Dalam kondisi terburu-buru, siswa atau guru kadang meletakkan alat di sembarang tempat. Akibatnya, saat alat dibutuhkan kembali, tidak ada yang tahu keberadaannya. Kekurangan alat ini bisa membuat sesi praktik terganggu, bahkan batal dilaksanakan karena peralatan tidak lengkap.

Untuk mengatasi semua permasalahan ini, dibutuhkan strategi yang tidak hanya mengandalkan niat baik, tetapi juga sistem yang tertib. Salah satu solusi yang mulai diadopsi oleh beberapa sekolah adalah penggunaan lemari terkunci dengan sistem password. Barang-barang rawan hilang kini tidak lagi disimpan sembarangan, melainkan diletakkan di lemari khusus yang hanya bisa dibuka oleh orang-orang tertentu yang memiliki akses. Sistem ini terbukti mampu membatasi akses tanpa perlu bergantung pada penguncian manual yang mudah diabaikan.

Penempatan lemari juga menjadi pertimbangan penting. Idealnya, lemari pengaman diletakkan di ruang kepala bengkel atau ketua jurusan. Selain memudahkan akses bagi pihak yang bertanggung jawab, hal ini juga memberikan efek pengawasan alami. Ketika barang berada di ruang yang secara fungsional memang bertugas mengatur peralatan, maka semua keluar-masuk alat akan lebih mudah dipantau.

Selain pengamanan fisik, diperlukan pula sistem administratif yang mendukung. Peminjaman alat kini diwajibkan melalui sistem pencatatan tertulis. Setiap peminjam harus mengisi buku peminjaman barang dengan informasi lengkap: nama peminjam, alat yang dipinjam, tanggal pinjam, dan waktu pengembalian. Sistem ini tidak hanya membuat proses lebih tertib, tetapi juga menciptakan tanggung jawab moral bagi setiap peminjam. Bahkan dalam beberapa sekolah, pencatatan peminjaman sudah mulai diintegrasikan secara digital, memudahkan pencarian data kapan pun dibutuhkan.

Dengan sistem ini, hasil positif pun mulai terlihat. Keluar-masuk barang praktik menjadi lebih teratur dan mudah diawasi. Saat audit atau pemeriksaan aset dilakukan, data peminjaman bisa langsung diakses, sehingga proses pengecekan menjadi lebih efisien. Tidak ada lagi kebingungan mengenai keberadaan alat tertentu, karena semua tercatat rapi.

Lebih dari itu, keamanan barang juga meningkat drastis. Kepala bengkel dan ketua jurusan memiliki kontrol penuh terhadap barang-barang bernilai tinggi. Setiap peminjaman dapat dipantau secara real time, dan barang yang sudah dikembalikan segera dikonfirmasi. Risiko kehilangan, baik karena kelalaian maupun niat jahat, menjadi jauh lebih kecil. Sistem ini juga menciptakan budaya disiplin dan tanggung jawab di kalangan siswa dan guru.

Yang tak kalah penting, solusi ini menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga aset bersama. Barang-barang praktik tidak lagi dianggap milik sekolah semata, tetapi milik semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran. Ketika siswa dan guru merasa memiliki, mereka akan lebih berhati-hati dalam menggunakan, meminjam, dan mengembalikan. Fasilitas sekolah pun terjaga dengan lebih baik, dan proses pembelajaran berjalan lebih lancar.

Namun, perlu diingat bahwa sistem yang baik saja tidak cukup. Dibutuhkan juga komitmen dari semua pihak untuk menjalankannya secara konsisten. Guru harus menjadi teladan dalam kepatuhan terhadap aturan. Siswa perlu diedukasi tentang pentingnya menjaga barang dan menghormati prosedur. Pihak manajemen sekolah pun harus mendukung dari sisi anggaran, pengadaan alat, dan pengembangan sistem pengelolaan aset.

Mengamankan barang praktik bukan sekadar soal kunci dan lemari. Ini adalah tentang membangun sistem yang adil dan transparan, serta menumbuhkan kesadaran bersama bahwa setiap alat memiliki peran penting dalam pendidikan. Sekolah adalah tempat belajar, dan belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari tanggung jawab, kedisiplinan, dan rasa memiliki.

Jika semua pihak dapat bekerja sama menjaga fasilitas sekolah, maka tidak hanya barang praktik yang selamat dari kehilangan, tetapi juga kualitas pendidikan yang terus terjaga. Di sinilah esensi sejati dari menjaga aset sekolah: bukan sekadar menghindari kerugian materi, tetapi memastikan bahwa setiap siswa memiliki akses yang sama terhadap alat belajar, kapan pun dibutuhkan.

Mari jadikan pengelolaan barang praktik sebagai bagian dari budaya sekolah. Mari tumbuhkan kebiasaan tertib dan bertanggung jawab, dari hal-hal kecil yang berdampak besar. Karena masa depan pendidikan vokasi ada di tangan kita semua—guru, siswa, dan seluruh warga sekolah yang peduli dan berkomitmen menjaga fasilitas belajar dengan sepenuh hati.

Penulis : Joko Mulyono, S.Pd,  Guru Listrik SMK Muhammadiyah 2 Cepu

Share

Related Posts

Post a Comment

Confirmation of Closure

Are you sure you want to close this video playback?