- Posted by : Joko Mulyono
- on : July 28, 2025
Di setiap sekolah vokasi, peralatan praktik merupakan denyut nadi dari
proses pembelajaran. Di sinilah siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga
mengasah keterampilan teknis yang menjadi bekal penting di dunia kerja.
Barang-barang praktik seperti rol kabel, bor listrik, kunci L, hingga berbagai
alat ukur memiliki nilai yang tidak hanya tinggi dari sisi biaya, tetapi juga
dari sisi fungsionalitas. Sayangnya, di balik intensitas penggunaannya, ada
risiko besar yang sering kali diabaikan: kehilangan.
Kehilangan barang praktik di sekolah bukanlah cerita baru. Fenomena ini
kerap muncul, mulai dari alat kecil yang tak kunjung kembali setelah dipinjam,
hingga barang bernilai mahal yang raib entah ke mana. Ironisnya,
peristiwa-peristiwa seperti ini sering kali berawal dari kelalaian kecil yang
dianggap sepele, seperti peminjaman tanpa pencatatan atau tempat penyimpanan
yang terlalu terbuka. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu proses
belajar mengajar, memicu ketidakpercayaan, dan bahkan menimbulkan kerugian
finansial bagi sekolah.
Artikel ini hadir sebagai upaya untuk menyampaikan solusi praktis dan
sistematis dalam menjaga barang-barang praktik yang rawan hilang. Karena menjaga
aset sekolah sejatinya adalah bagian dari menjaga kualitas pendidikan dan
keberlanjutan pembelajaran.
Masalah utama yang dihadapi oleh banyak sekolah kejuruan terletak pada
tingginya risiko kehilangan barang praktik. Alat-alat seperti rol kabel, bor
listrik, kunci L, dan peralatan tangan lainnya digunakan oleh banyak orang—baik
guru, siswa, maupun teknisi. Karena sering berpindah tangan dan digunakan
secara kolektif, kontrol atas barang-barang ini menjadi sangat lemah. Apalagi
jika tidak ada sistem pengelolaan yang baku, maka potensi kehilangan akan terus
mengintai.
Salah satu akar permasalahan adalah praktik peminjaman yang masih dilakukan
secara lisan. Di banyak bengkel atau ruang praktik, peminjaman alat hanya
bermodalkan permintaan langsung. “Pak, boleh pinjam bor?”
“Bu, saya ambil kunci L dulu ya.” Tanpa
pencatatan, tanpa bukti, dan tanpa pengingat siapa yang terakhir kali
menggunakan. Saat barang tidak kembali, sulit untuk melacaknya. Ketika alat
raib, tak ada yang bisa dimintai pertanggungjawaban secara jelas.
Lemahnya sistem inventarisasi juga menjadi persoalan serius. Tidak
sedikit sekolah yang masih mengandalkan daftar inventaris manual yang jarang
diperbarui. Bahkan dalam beberapa
kasus, tidak ada inventaris sama sekali untuk alat-alat kecil. Dalam kondisi
seperti ini, pencurian bisa saja terjadi—bukan oleh orang luar, tetapi justru
dari warga sekolah sendiri yang memanfaatkan celah lemahnya pengawasan.
Permasalahan lainnya adalah barang yang dipinjam tidak selalu dikembalikan
ke tempat semula. Dalam kondisi terburu-buru, siswa atau guru kadang meletakkan
alat di sembarang tempat. Akibatnya, saat alat dibutuhkan kembali, tidak ada
yang tahu keberadaannya. Kekurangan alat ini bisa membuat sesi praktik
terganggu, bahkan batal dilaksanakan karena peralatan tidak lengkap.
Untuk mengatasi semua permasalahan ini, dibutuhkan strategi yang tidak
hanya mengandalkan niat baik, tetapi juga sistem yang tertib. Salah satu solusi
yang mulai diadopsi oleh beberapa sekolah adalah penggunaan lemari terkunci
dengan sistem password. Barang-barang rawan hilang kini tidak lagi disimpan
sembarangan, melainkan diletakkan di lemari khusus yang hanya bisa dibuka oleh
orang-orang tertentu yang memiliki akses. Sistem ini terbukti mampu membatasi
akses tanpa perlu bergantung pada penguncian manual yang mudah diabaikan.
Penempatan lemari juga menjadi pertimbangan penting. Idealnya, lemari
pengaman diletakkan di ruang kepala bengkel atau ketua jurusan. Selain
memudahkan akses bagi pihak yang bertanggung jawab, hal ini juga memberikan
efek pengawasan alami. Ketika barang berada di ruang yang secara fungsional
memang bertugas mengatur peralatan, maka semua keluar-masuk alat akan lebih
mudah dipantau.
Selain
pengamanan fisik, diperlukan pula sistem administratif yang mendukung. Peminjaman
alat kini diwajibkan melalui sistem pencatatan tertulis. Setiap peminjam harus
mengisi buku peminjaman barang dengan informasi lengkap: nama peminjam, alat
yang dipinjam, tanggal pinjam, dan waktu pengembalian. Sistem ini tidak hanya
membuat proses lebih tertib, tetapi juga menciptakan tanggung jawab moral bagi
setiap peminjam. Bahkan dalam beberapa sekolah, pencatatan peminjaman sudah
mulai diintegrasikan secara digital, memudahkan pencarian data kapan pun
dibutuhkan.
Dengan
sistem ini, hasil positif pun mulai terlihat. Keluar-masuk barang praktik
menjadi lebih teratur dan mudah diawasi. Saat audit atau pemeriksaan aset
dilakukan, data peminjaman bisa langsung diakses, sehingga proses pengecekan
menjadi lebih efisien. Tidak ada lagi
kebingungan mengenai keberadaan alat tertentu, karena semua tercatat rapi.
Lebih dari itu, keamanan barang juga meningkat drastis. Kepala bengkel dan
ketua jurusan memiliki kontrol penuh terhadap barang-barang bernilai tinggi.
Setiap peminjaman dapat dipantau secara real time, dan barang yang sudah
dikembalikan segera dikonfirmasi. Risiko kehilangan, baik karena kelalaian
maupun niat jahat, menjadi jauh lebih kecil. Sistem
ini juga menciptakan budaya disiplin dan tanggung jawab di kalangan siswa dan
guru.
Yang tak kalah penting, solusi ini menumbuhkan kesadaran kolektif akan
pentingnya menjaga aset bersama. Barang-barang praktik tidak lagi dianggap
milik sekolah semata, tetapi milik semua pihak yang terlibat dalam proses
pembelajaran. Ketika siswa dan guru merasa memiliki, mereka akan lebih
berhati-hati dalam menggunakan, meminjam, dan mengembalikan. Fasilitas sekolah
pun terjaga dengan lebih baik, dan proses pembelajaran berjalan lebih lancar.
Namun, perlu diingat bahwa sistem yang baik saja tidak cukup. Dibutuhkan
juga komitmen dari semua pihak untuk menjalankannya secara konsisten. Guru
harus menjadi teladan dalam kepatuhan terhadap aturan. Siswa perlu diedukasi
tentang pentingnya menjaga barang dan menghormati prosedur. Pihak manajemen
sekolah pun harus mendukung dari sisi anggaran, pengadaan alat, dan
pengembangan sistem pengelolaan aset.
Mengamankan barang praktik bukan sekadar soal kunci dan lemari. Ini adalah
tentang membangun sistem yang adil dan transparan, serta menumbuhkan kesadaran
bersama bahwa setiap alat memiliki peran penting dalam pendidikan. Sekolah
adalah tempat belajar, dan belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari
tanggung jawab, kedisiplinan, dan rasa memiliki.
Jika semua pihak dapat bekerja sama menjaga fasilitas sekolah, maka tidak
hanya barang praktik yang selamat dari kehilangan, tetapi juga kualitas
pendidikan yang terus terjaga. Di sinilah esensi sejati dari menjaga aset
sekolah: bukan sekadar menghindari kerugian materi, tetapi memastikan bahwa
setiap siswa memiliki akses yang sama terhadap alat belajar, kapan pun
dibutuhkan.
Mari jadikan pengelolaan barang praktik sebagai bagian dari budaya sekolah.
Mari tumbuhkan kebiasaan tertib dan bertanggung jawab, dari hal-hal kecil yang
berdampak besar. Karena masa depan pendidikan vokasi ada di tangan kita
semua—guru, siswa, dan seluruh warga sekolah yang peduli dan berkomitmen
menjaga fasilitas belajar dengan sepenuh hati.
Penulis : Joko Mulyono, S.Pd,
Guru Listrik SMK Muhammadiyah 2 Cepu