Skip to Content
Loading...
Nur Imamah
Nur Imamah
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Menyumbangkan komponen rusak untuk kegiatan pengayaan materi Instalasi motor listrik (IML)

 



 

Di balik kemajuan teknologi yang terus berkembang, sekolah vokasi tetap berperan penting dalam menyiapkan generasi terampil yang siap terjun ke dunia industri. Salah satu elemen krusial dalam pendidikan vokasi adalah laboratorium praktik, tempat siswa mengasah keterampilan teknis, khususnya di jurusan kelistrikan. Namun, di balik aktivitas pembelajaran yang dinamis, ada satu realita yang kerap terabaikan: siklus hidup komponen listrik di laboratorium sekolah. Seiring waktu dan intensitas penggunaan, berbagai komponen seperti kontaktor, timer, MCB, saklar, hingga motor listrik akan mengalami kerusakan. Hal ini tak terelakkan. Sayangnya, ketika sudah rusak, komponen-komponen tersebut lebih sering dijual sebagai rongsok, kehilangan nilai edukatifnya begitu saja.

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, di balik bentuk fisiknya yang rusak, komponen-komponen tersebut menyimpan potensi besar sebagai alat bantu pembelajaran. Inilah yang menjadi ide dasar dari gagasan inovatif: mengubah komponen listrik rusak menjadi media eksplorasi yang praktis, nyata, dan kontekstual untuk memperkaya pemahaman siswa terhadap materi Instalasi Motor Listrik (IML). Artikel ini bertujuan untuk menggugah kesadaran guru dan pihak sekolah akan pentingnya melihat ulang “limbah” laboratorium sebagai sumber belajar yang murah, kreatif, dan berdaya guna tinggi.

Komponen listrik, sebagaimana barang elektronik lainnya, memiliki umur pakai tertentu. Intensitas praktik di sekolah sering kali mempercepat masa pakainya. Kerusakan bisa terjadi karena aus, kesalahan prosedur, atau beban yang melebihi kapasitas. Akibatnya, guru dan teknisi lab harus terus mengganti komponen yang sudah tidak berfungsi. Biaya penggantian ini tidaklah kecil. Bahkan dalam beberapa kasus, sekolah kesulitan mengadakan praktik karena keterbatasan dana untuk membeli peralatan baru.

Alih-alih dimanfaatkan, komponen rusak lebih sering dikumpulkan dan dijual sebagai besi tua. Nilai jualnya rendah, sementara nilai edukatifnya tinggi jika dikelola dengan pendekatan kreatif. Komponen seperti kontaktor yang rusak tetap bisa dipelajari konstruksi dalamnya. Timer yang tidak lagi berfungsi tetap bisa dianalisis prinsip kerjanya. Sayangnya, dalam pembelajaran konvensional, guru kerap hanya menjelaskan teori dengan papan tulis atau video. Siswa tidak diberi kesempatan untuk menyentuh langsung komponen yang sebenarnya. Hal ini membuat pemahaman mereka menjadi dangkal. Mereka tahu nama dan fungsi komponen, tapi tidak pernah benar-benar melihat bagaimana ia bekerja di dalamnya.

Akibatnya, ketika siswa menghadapi materi lanjutan yang lebih kompleks, mereka mengalami kesulitan. Konsep dasar yang belum kuat menjadi beban yang menghambat proses belajar. Kompetensi teknis yang seharusnya menjadi kekuatan lulusan sekolah vokasi justru menjadi titik lemah. Kondisi ini tentu harus segera dicari solusinya.

Salah satu langkah awal adalah mengubah cara pandang terhadap komponen rusak. Bukan sebagai sampah, melainkan sebagai aset belajar. Untuk itu, guru bisa mulai dengan memilah komponen rusak berdasarkan tingkat kerusakannya. Komponen yang rusaknya ringan dapat diperbaiki dan diuji ulang. Komponen yang rusaknya sedang bisa dijadikan media studi, tanpa harus digunakan aktif. Sementara komponen yang rusaknya berat, tetapi tidak membahayakan, tetap bisa menjadi bahan pembelajaran studi kasus.

Setelah itu, komponen-komponen ini dapat diberikan kepada siswa sebagai sarana eksplorasi mandiri. Mereka bisa membongkar, mengamati bagian dalam, dan menganalisis bagaimana kerjanya. Proses ini memberi pengalaman belajar langsung yang sangat berharga. Bahkan, guru bisa menjadikannya sebagai tugas proyek individu atau kelompok. Siswa diajak membawa pulang komponen tersebut, mempelajarinya lebih jauh, dan membuat laporan singkat dari temuan mereka.

Lebih menarik lagi, guru bisa menantang siswa untuk mencoba memperbaiki komponen tersebut. Tentu dengan pengawasan dan batasan keamanan yang jelas. Proses ini tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, analisis masalah, dan ketekunan dalam menyelesaikan tugas. Beberapa siswa mungkin akan gagal memperbaiki, namun proses yang mereka lalui justru menjadi nilai tambah pembelajaran. Sementara bagi yang berhasil, bisa diberikan apresiasi khusus, seperti nilai tambahan, sertifikat, atau penghargaan lainnya.

Dampak positif dari pendekatan ini sangat luas. Siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menyaksikan dan menyentuh langsung bagaimana sebuah kontaktor bekerja, apa saja komponen dalam timer, atau bagaimana MCB memutus arus. Pembelajaran menjadi konkret dan membekas. Rasa ingin tahu pun meningkat, karena mereka tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pelaku eksplorasi. Semangat belajar mandiri tumbuh seiring dengan rasa bangga akan keberhasilan mereka sendiri dalam memahami atau bahkan memperbaiki komponen.

Selain itu, pendekatan ini membentuk budaya apresiatif terhadap barang bekas. Siswa belajar bahwa sesuatu yang tampak rusak pun masih punya nilai, tergantung dari cara kita memanfaatkannya. Ini menumbuhkan sikap hemat, kreatif, dan bertanggung jawab. Budaya inovatif juga bisa dibangun dari sini. Jurusan listrik di sekolah bisa mengembangkan program tahunan seperti “Festival Komponen Bekas”, di mana siswa memamerkan hasil eksplorasi atau modifikasi mereka. Dokumentasi hasil eksperimen juga bisa menjadi bahan ajar baru yang dikembangkan dari siswa, oleh siswa, dan untuk siswa.

Dengan demikian, komponen rusak tidak lagi menjadi beban atau sampah laboratorium, tetapi berubah menjadi alat bantu pembelajaran yang bernilai tinggi. Pendekatan ini membuka peluang kolaborasi lintas mata pelajaran, seperti mengintegrasikan dokumentasi eksplorasi ke pelajaran TIK atau Bahasa Indonesia dalam bentuk laporan teknis. Bahkan, jika dikelola dengan baik, hasil pembelajaran ini bisa dipublikasikan melalui media sosial sekolah atau kanal YouTube jurusan untuk memperluas dampak dan menjadi bahan promosi sekolah.

Kesimpulannya, memanfaatkan komponen listrik rusak sebagai media pembelajaran Instalasi Motor Listrik adalah langkah inovatif yang sangat mungkin diterapkan di sekolah vokasi. Selain meminimalisasi pemborosan, langkah ini meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat pemahaman konsep, serta membentuk budaya eksploratif dan hemat di kalangan siswa. Guru dan pihak sekolah perlu mulai membuka mata terhadap potensi besar dari hal-hal kecil yang selama ini terabaikan. Komponen rusak bukan akhir dari fungsi suatu alat, melainkan awal dari proses belajar yang lebih bermakna. Sudah saatnya sekolah berani melihat peluang pembelajaran dari “sisa-sisa” laboratorium, demi menciptakan lulusan yang bukan hanya cerdas teori, tetapi juga kuat dalam praktik dan inovasi.

Penulis : Joko Mulyono, S.Pd,  Guru Listrik SMK Muhammadiyah 2 Cepu

Share

Related Posts

Post a Comment

Confirmation of Closure

Are you sure you want to close this video playback?