- Posted by : Joko Mulyono
- on : July 08, 2025
Di balik kemajuan
teknologi yang terus berkembang, sekolah vokasi tetap berperan penting dalam
menyiapkan generasi terampil yang siap terjun ke dunia industri. Salah satu elemen krusial dalam pendidikan vokasi adalah
laboratorium praktik, tempat siswa mengasah keterampilan teknis, khususnya di
jurusan kelistrikan. Namun, di balik aktivitas pembelajaran yang dinamis, ada
satu realita yang kerap terabaikan: siklus hidup komponen listrik di
laboratorium sekolah. Seiring waktu dan intensitas penggunaan, berbagai
komponen seperti kontaktor, timer, MCB, saklar, hingga motor listrik akan
mengalami kerusakan. Hal ini tak terelakkan. Sayangnya, ketika sudah rusak,
komponen-komponen tersebut lebih sering dijual sebagai rongsok, kehilangan
nilai edukatifnya begitu saja.
Padahal, jika ditelaah lebih dalam, di balik bentuk fisiknya yang rusak,
komponen-komponen tersebut menyimpan potensi besar sebagai alat bantu
pembelajaran. Inilah yang menjadi ide dasar dari gagasan inovatif: mengubah
komponen listrik rusak menjadi media eksplorasi yang praktis, nyata, dan
kontekstual untuk memperkaya pemahaman siswa terhadap materi Instalasi Motor
Listrik (IML). Artikel ini bertujuan untuk menggugah kesadaran guru dan pihak
sekolah akan pentingnya melihat ulang “limbah” laboratorium sebagai sumber
belajar yang murah, kreatif, dan berdaya guna tinggi.
Komponen listrik, sebagaimana barang elektronik lainnya, memiliki umur
pakai tertentu. Intensitas praktik di sekolah sering kali mempercepat masa
pakainya. Kerusakan bisa terjadi karena aus, kesalahan prosedur, atau beban
yang melebihi kapasitas. Akibatnya, guru dan teknisi lab harus terus mengganti
komponen yang sudah tidak berfungsi. Biaya penggantian ini tidaklah kecil.
Bahkan dalam beberapa kasus, sekolah kesulitan mengadakan praktik karena
keterbatasan dana untuk membeli peralatan baru.
Alih-alih dimanfaatkan, komponen rusak lebih sering dikumpulkan dan dijual
sebagai besi tua. Nilai jualnya rendah, sementara nilai edukatifnya tinggi jika
dikelola dengan pendekatan kreatif. Komponen seperti kontaktor yang rusak tetap
bisa dipelajari konstruksi dalamnya. Timer yang tidak lagi
berfungsi tetap bisa dianalisis prinsip kerjanya. Sayangnya, dalam pembelajaran
konvensional, guru kerap hanya menjelaskan teori dengan papan tulis atau video.
Siswa tidak diberi kesempatan untuk menyentuh langsung komponen yang
sebenarnya. Hal ini membuat pemahaman mereka menjadi dangkal. Mereka tahu nama
dan fungsi komponen, tapi tidak pernah benar-benar melihat bagaimana ia bekerja
di dalamnya.
Akibatnya, ketika siswa
menghadapi materi lanjutan yang lebih kompleks, mereka mengalami kesulitan.
Konsep dasar yang belum kuat menjadi beban yang menghambat proses belajar. Kompetensi teknis yang seharusnya menjadi kekuatan
lulusan sekolah vokasi justru menjadi titik lemah. Kondisi ini tentu harus
segera dicari solusinya.
Salah satu langkah awal adalah mengubah cara pandang
terhadap komponen rusak. Bukan
sebagai sampah, melainkan sebagai aset belajar. Untuk itu, guru bisa mulai
dengan memilah komponen rusak berdasarkan tingkat kerusakannya. Komponen yang
rusaknya ringan dapat diperbaiki dan diuji ulang. Komponen yang rusaknya sedang
bisa dijadikan media studi, tanpa harus digunakan aktif. Sementara komponen
yang rusaknya berat, tetapi tidak membahayakan, tetap bisa menjadi bahan
pembelajaran studi kasus.
Setelah itu, komponen-komponen ini dapat diberikan kepada siswa sebagai
sarana eksplorasi mandiri. Mereka bisa membongkar, mengamati bagian dalam, dan
menganalisis bagaimana kerjanya. Proses ini memberi pengalaman belajar langsung
yang sangat berharga. Bahkan, guru bisa menjadikannya sebagai tugas proyek
individu atau kelompok. Siswa diajak membawa pulang komponen tersebut,
mempelajarinya lebih jauh, dan membuat laporan singkat dari temuan mereka.
Lebih menarik lagi, guru bisa menantang siswa untuk mencoba memperbaiki
komponen tersebut. Tentu dengan pengawasan dan batasan keamanan yang jelas.
Proses ini tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan
berpikir kritis, analisis masalah, dan ketekunan dalam menyelesaikan tugas.
Beberapa siswa mungkin akan gagal memperbaiki, namun proses yang mereka lalui
justru menjadi nilai tambah pembelajaran. Sementara bagi yang berhasil, bisa
diberikan apresiasi khusus, seperti nilai tambahan, sertifikat, atau
penghargaan lainnya.
Dampak positif dari pendekatan ini sangat luas. Siswa tidak hanya memahami
teori, tetapi juga menyaksikan dan menyentuh langsung bagaimana sebuah
kontaktor bekerja, apa saja komponen dalam timer, atau bagaimana MCB memutus
arus. Pembelajaran menjadi konkret dan membekas. Rasa ingin tahu pun meningkat,
karena mereka tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pelaku
eksplorasi. Semangat belajar mandiri tumbuh seiring dengan rasa bangga akan
keberhasilan mereka sendiri dalam memahami atau bahkan memperbaiki komponen.
Selain itu, pendekatan ini
membentuk budaya apresiatif terhadap barang bekas. Siswa belajar bahwa sesuatu
yang tampak rusak pun masih punya nilai, tergantung dari cara kita
memanfaatkannya. Ini menumbuhkan sikap hemat, kreatif, dan bertanggung jawab.
Budaya inovatif juga bisa dibangun dari sini. Jurusan listrik di sekolah bisa
mengembangkan program tahunan seperti “Festival Komponen Bekas”, di mana siswa
memamerkan hasil eksplorasi atau modifikasi mereka. Dokumentasi hasil
eksperimen juga bisa menjadi bahan ajar baru yang dikembangkan dari siswa, oleh
siswa, dan untuk siswa.
Dengan demikian, komponen
rusak tidak lagi menjadi beban atau sampah laboratorium, tetapi berubah menjadi
alat bantu pembelajaran yang bernilai tinggi. Pendekatan ini membuka peluang kolaborasi lintas mata
pelajaran, seperti mengintegrasikan dokumentasi eksplorasi ke pelajaran TIK
atau Bahasa Indonesia dalam bentuk laporan teknis. Bahkan, jika dikelola dengan
baik, hasil pembelajaran ini bisa dipublikasikan melalui media sosial sekolah
atau kanal YouTube jurusan untuk memperluas dampak dan menjadi bahan promosi
sekolah.
Kesimpulannya, memanfaatkan komponen listrik rusak sebagai media
pembelajaran Instalasi Motor Listrik adalah langkah inovatif yang sangat
mungkin diterapkan di sekolah vokasi. Selain meminimalisasi pemborosan, langkah
ini meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat pemahaman konsep, serta
membentuk budaya eksploratif dan hemat di kalangan siswa. Guru dan pihak
sekolah perlu mulai membuka mata terhadap potensi besar dari hal-hal kecil yang
selama ini terabaikan. Komponen rusak bukan akhir dari fungsi suatu alat,
melainkan awal dari proses belajar yang lebih bermakna. Sudah saatnya sekolah
berani melihat peluang pembelajaran dari “sisa-sisa” laboratorium, demi
menciptakan lulusan yang bukan hanya cerdas teori, tetapi juga kuat dalam
praktik dan inovasi.
Penulis : Joko Mulyono, S.Pd,
Guru Listrik SMK Muhammadiyah 2 Cepu