Skip to Content
Loading...
Nur Imamah
Nur Imamah
Online
Halo 👋
Ada yang bisa dibantu?

Pentingnya APAR Bagi Keselamatan Sekolah



Keselamatan di lingkungan sekolah seharusnya menjadi prioritas utama, terutama bagi sekolah menengah kejuruan (SMK) teknik yang setiap harinya diwarnai aktivitas praktik dengan risiko tinggi. Di ruang-ruang praktik, siswa dan guru berhadapan langsung dengan peralatan kelistrikan, mesin-mesin industri, hingga alat berat yang mengandalkan energi panas dan arus listrik. Dalam kondisi seperti ini, ancaman kebakaran bukanlah kemungkinan kecil, melainkan risiko nyata yang bisa terjadi kapan saja bila langkah pencegahan tidak disiapkan secara matang.

Kebakaran di lingkungan SMK teknik dapat timbul dari berbagai sumber. Percikan api kecil dari pengelasan, hubungan arus pendek listrik dari instalasi yang sudah tua, hingga panas berlebih dari mesin-mesin yang digunakan terus-menerus dalam praktik. Di balik kegiatan pembelajaran yang tampak rutin, tersembunyi potensi bahaya yang bisa membesar bila tidak ada sistem keamanan yang memadai. Maka, pertanyaannya bukan lagi “apakah sekolah membutuhkan perlindungan dari kebakaran?”, melainkan “seberapa siap sekolah menghadapi potensi kebakaran?” Di sinilah Alat Pemadam Api Ringan (APAR) hadir sebagai kebutuhan yang mendesak, bukan sekadar pelengkap dinding ruang praktik.

SMK teknik adalah lingkungan pendidikan yang sangat khas. Pembelajaran dilakukan tidak hanya melalui teori, melainkan juga praktik langsung di bengkel atau laboratorium. Dalam praktik kelistrikan, misalnya, siswa melakukan instalasi kabel, menguji arus listrik, atau menyambung panel distribusi. Risiko terjadinya korsleting sangat tinggi, terutama jika peralatan atau prosedur digunakan tanpa pengawasan yang ketat. Begitu pula dalam praktik mekanik, aktivitas seperti pengelasan, pemotongan logam, dan penggunaan mesin dengan suhu tinggi bisa menimbulkan percikan api yang jika terkena bahan mudah terbakar akan menjadi pemicu kebakaran.

Masalah keselamatan tidak berhenti pada risiko praktik saja. Penataan instalasi listrik di banyak sekolah sering kali belum mengikuti standar keselamatan terbaru. Kabel menjalar di bawah meja, menggantung sembarangan di dinding, atau bahkan menumpuk di satu titik steker, menciptakan kondisi rawan panas berlebih dan korsleting. Lebih parah lagi, ketika sekolah mengalami perluasan bangunan atau renovasi, pembaruan sistem kelistrikan sering kali terabaikan. Beban listrik terus bertambah, tetapi jaringan listrik tidak pernah diperbarui sesuai kapasitas. Akibatnya, sistem menjadi tidak stabil dan rentan menyebabkan kebakaran.

Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan sumber daya, khususnya air. Saat kebakaran terjadi, respons cepat sangat dibutuhkan. Sayangnya, tidak semua sekolah memiliki persediaan air yang cukup atau sistem hydrant yang siap pakai. Dalam situasi darurat, waktu menjadi sangat krusial. Kehilangan satu atau dua menit bisa berarti membiarkan api membesar dan melahap peralatan, dokumen penting, bahkan ruang kelas. Oleh sebab itu, mengandalkan air semata sebagai solusi pemadaman jelas tidak cukup. Dibutuhkan alat yang dapat menjangkau titik api secara cepat, efektif, dan dapat digunakan oleh siapa saja, termasuk guru dan siswa. Jawabannya adalah APAR.

Sebagai langkah pencegahan, sekolah perlu melakukan audit menyeluruh terhadap sistem kelistrikan yang ada. Audit ini mencakup pemeriksaan distribusi daya, pengaturan kabel, kapasitas panel listrik, hingga kondisi steker dan stop kontak. Bila ditemukan kondisi yang tidak layak atau overload, segera lakukan perbaikan dan pembaruan instalasi sesuai standar nasional. Penataan ulang harus memastikan tidak ada kabel berserakan, tidak ada sambungan kabel yang terbuka, dan semua peralatan memiliki jalur distribusi yang aman.

Langkah kedua yang tak kalah penting adalah pengadaan APAR di setiap ruang praktik. Jenis APAR yang dipilih harus disesuaikan dengan jenis risiko. Untuk ruang kelistrikan, APAR tipe CO₂ lebih tepat karena tidak menghantarkan listrik dan tidak meninggalkan residu. Sementara di ruang mekanik atau dapur teknik, bisa digunakan APAR tipe powder (serbuk kimia) yang dapat memadamkan api dari bahan padat dan cair. Namun pengadaan alat saja tidak cukup. Guru dan siswa harus dilatih cara menggunakannya. Pelatihan ini penting agar saat terjadi kebakaran, tidak ada kebingungan atau kepanikan. Semua tahu prosedur: ambil APAR, tarik pin, arahkan ke sumber api, dan semprot dengan gerakan menyapu.

Dampak dari langkah ini sangat nyata. Pertama, rasa aman di lingkungan sekolah meningkat drastis. Siswa dan guru bisa fokus belajar dan mengajar tanpa dihantui rasa takut akan bahaya yang tersembunyi. Praktik teknik tidak lagi menjadi momok, melainkan ruang eksplorasi keterampilan yang menyenangkan dan aman. Kedua, ketika insiden kecil terjadi—misalnya percikan api saat praktik las atau lonjakan arus dari peralatan elektronik—guru atau siswa bisa langsung mengambil tindakan. Api yang seharusnya bisa membesar dalam hitungan menit, dapat dipadamkan hanya dalam detik. Ini bukan hanya menyelamatkan fasilitas sekolah, tetapi juga menyelamatkan nyawa.

Yang tidak kalah penting, APAR memberikan simbol penting dalam budaya keselamatan di sekolah. Keberadaannya mengingatkan setiap warga sekolah bahwa risiko itu nyata dan kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama. Sering kali, kita menganggap keselamatan adalah urusan teknisi atau penjaga sekolah. Padahal, setiap individu di lingkungan pendidikan, dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga petugas kebersihan, harus memiliki kesadaran dan pengetahuan dasar tentang keselamatan. Ketika APAR menjadi bagian dari keseharian—bukan sekadar hiasan dinding—maka terbentuklah budaya sekolah yang peduli dan waspada terhadap risiko.

Inisiatif seperti ini tidak hanya melindungi aset dan manusia, tetapi juga membentuk karakter. Siswa belajar tentang pentingnya kewaspadaan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Mereka tidak hanya menjadi ahli teknik yang piawai menggunakan alat, tetapi juga individu yang paham pentingnya menjaga keselamatan diri dan orang lain. Dalam jangka panjang, budaya ini akan terbawa hingga ke tempat kerja, menjadikan mereka tenaga kerja yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki etos kerja dan kesadaran keselamatan yang tinggi.

Sudah saatnya sekolah teknik menjadikan keselamatan sebagai standar yang tidak bisa ditawar. APAR bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan pokok di setiap ruang praktik. Pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan pihak sekolah harus bekerja sama untuk memastikan semua sekolah memiliki sarana pemadam api yang cukup dan pelatihan penggunaan yang memadai. Selain itu, evaluasi rutin terhadap sistem keselamatan harus dijadikan agenda tetap, bukan sekadar respons setelah kejadian.

Refleksi dari semua ini sederhana namun mendalam: keselamatan bukan sekadar alat atau prosedur, tetapi budaya yang harus dibangun bersama. APAR hanyalah simbol kecil dari kesiapsiagaan yang lebih besar. Ia berbicara tentang kepedulian, antisipasi, dan tanggung jawab. Ketika sekolah menjadikannya sebagai bagian dari manajemen risiko, maka tidak hanya fasilitas yang aman, tetapi juga jiwa pendidikan yang hidup di dalamnya.

Mari jadikan keselamatan sebagai prioritas, bukan hanya dalam dokumen, tetapi dalam tindakan nyata. Mari hadirkan APAR di setiap ruang praktik, latih siswa dan guru untuk menggunakannya, dan ciptakan sekolah teknik yang tidak hanya hebat dalam prestasi, tetapi juga tangguh dalam menghadapi risiko. Sebab sekolah yang aman adalah tempat terbaik untuk menumbuhkan generasi yang unggul dan berdaya saing tinggi.

Penulis : Joko Mulyono, S.Pd,  Guru Listrik SMK Muhammadiyah 2 Cepu

Share

Related Posts

Post a Comment

Confirmation of Closure

Are you sure you want to close this video playback?