- Posted by : Joko Mulyono
- on : July 16, 2025
Keselamatan
di lingkungan sekolah seharusnya menjadi prioritas utama, terutama bagi sekolah
menengah kejuruan (SMK) teknik yang setiap harinya diwarnai aktivitas praktik
dengan risiko tinggi. Di ruang-ruang praktik, siswa dan guru berhadapan
langsung dengan peralatan kelistrikan, mesin-mesin industri, hingga alat berat
yang mengandalkan energi panas dan arus listrik. Dalam kondisi seperti ini,
ancaman kebakaran bukanlah kemungkinan kecil, melainkan risiko nyata yang bisa
terjadi kapan saja bila langkah pencegahan tidak disiapkan secara matang.
Kebakaran
di lingkungan SMK teknik dapat timbul dari berbagai sumber. Percikan api kecil
dari pengelasan, hubungan arus pendek listrik dari instalasi yang sudah tua,
hingga panas berlebih dari mesin-mesin yang digunakan terus-menerus dalam
praktik. Di balik kegiatan pembelajaran yang tampak rutin, tersembunyi potensi
bahaya yang bisa membesar bila tidak ada sistem keamanan yang memadai. Maka,
pertanyaannya bukan lagi “apakah sekolah membutuhkan perlindungan dari
kebakaran?”, melainkan “seberapa siap sekolah menghadapi potensi kebakaran?” Di
sinilah Alat Pemadam Api Ringan (APAR) hadir sebagai kebutuhan yang mendesak,
bukan sekadar pelengkap dinding ruang praktik.
SMK
teknik adalah lingkungan pendidikan yang sangat khas. Pembelajaran dilakukan
tidak hanya melalui teori, melainkan juga praktik langsung di bengkel atau
laboratorium. Dalam praktik kelistrikan, misalnya, siswa melakukan instalasi
kabel, menguji arus listrik, atau menyambung panel distribusi. Risiko terjadinya korsleting sangat tinggi, terutama jika
peralatan atau prosedur digunakan tanpa pengawasan yang ketat. Begitu pula
dalam praktik mekanik, aktivitas seperti pengelasan, pemotongan logam, dan
penggunaan mesin dengan suhu tinggi bisa menimbulkan percikan api yang jika
terkena bahan mudah terbakar akan menjadi pemicu kebakaran.
Masalah keselamatan tidak berhenti pada risiko praktik saja. Penataan
instalasi listrik di banyak sekolah sering kali belum mengikuti standar
keselamatan terbaru. Kabel menjalar di bawah meja, menggantung sembarangan di
dinding, atau bahkan menumpuk di satu titik steker, menciptakan kondisi rawan
panas berlebih dan korsleting. Lebih parah lagi, ketika sekolah mengalami
perluasan bangunan atau renovasi, pembaruan sistem kelistrikan sering kali
terabaikan. Beban listrik terus bertambah, tetapi jaringan listrik tidak pernah
diperbarui sesuai kapasitas. Akibatnya, sistem menjadi tidak stabil dan rentan
menyebabkan kebakaran.
Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan sumber
daya, khususnya air. Saat kebakaran
terjadi, respons cepat sangat dibutuhkan. Sayangnya, tidak semua sekolah
memiliki persediaan air yang cukup atau sistem hydrant yang siap pakai. Dalam
situasi darurat, waktu menjadi sangat krusial. Kehilangan satu atau dua menit
bisa berarti membiarkan api membesar dan melahap peralatan, dokumen penting,
bahkan ruang kelas. Oleh sebab itu, mengandalkan air semata sebagai solusi
pemadaman jelas tidak cukup. Dibutuhkan alat yang dapat menjangkau titik api
secara cepat, efektif, dan dapat digunakan oleh siapa saja, termasuk guru dan
siswa. Jawabannya adalah APAR.
Sebagai langkah pencegahan, sekolah perlu melakukan audit menyeluruh
terhadap sistem kelistrikan yang ada. Audit ini mencakup
pemeriksaan distribusi daya, pengaturan kabel, kapasitas panel listrik, hingga
kondisi steker dan stop kontak. Bila ditemukan kondisi yang tidak layak atau
overload, segera lakukan perbaikan dan pembaruan instalasi sesuai standar
nasional. Penataan ulang harus memastikan tidak ada kabel berserakan, tidak ada
sambungan kabel yang terbuka, dan semua peralatan memiliki jalur distribusi
yang aman.
Langkah
kedua yang tak kalah penting adalah pengadaan APAR di setiap ruang praktik.
Jenis APAR yang dipilih harus disesuaikan dengan jenis risiko. Untuk ruang
kelistrikan, APAR tipe CO₂ lebih tepat karena tidak menghantarkan listrik dan
tidak meninggalkan residu. Sementara di ruang mekanik atau dapur teknik, bisa
digunakan APAR tipe powder (serbuk kimia) yang dapat memadamkan api dari bahan
padat dan cair. Namun pengadaan alat saja tidak cukup. Guru dan siswa harus
dilatih cara menggunakannya. Pelatihan
ini penting agar saat terjadi kebakaran, tidak ada kebingungan atau kepanikan.
Semua tahu prosedur: ambil APAR, tarik pin, arahkan ke sumber api, dan semprot
dengan gerakan menyapu.
Dampak dari langkah ini sangat nyata. Pertama, rasa aman di lingkungan
sekolah meningkat drastis. Siswa dan guru bisa fokus belajar dan mengajar tanpa
dihantui rasa takut akan bahaya yang tersembunyi. Praktik teknik tidak lagi
menjadi momok, melainkan ruang eksplorasi keterampilan yang menyenangkan dan
aman. Kedua, ketika insiden kecil terjadi—misalnya percikan api saat praktik
las atau lonjakan arus dari peralatan elektronik—guru atau siswa bisa langsung
mengambil tindakan. Api yang seharusnya bisa membesar
dalam hitungan menit, dapat dipadamkan hanya dalam detik. Ini bukan hanya menyelamatkan fasilitas sekolah, tetapi
juga menyelamatkan nyawa.
Yang
tidak kalah penting, APAR memberikan simbol penting dalam budaya keselamatan di
sekolah. Keberadaannya mengingatkan setiap warga sekolah bahwa risiko itu nyata
dan kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama. Sering kali, kita menganggap keselamatan adalah urusan
teknisi atau penjaga sekolah. Padahal, setiap individu di lingkungan
pendidikan, dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga petugas kebersihan, harus
memiliki kesadaran dan pengetahuan dasar tentang keselamatan. Ketika APAR
menjadi bagian dari keseharian—bukan sekadar hiasan dinding—maka terbentuklah budaya
sekolah yang peduli dan waspada terhadap risiko.
Inisiatif seperti ini tidak hanya melindungi aset dan manusia, tetapi juga
membentuk karakter. Siswa belajar tentang pentingnya
kewaspadaan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan. Mereka tidak
hanya menjadi ahli teknik yang piawai menggunakan alat, tetapi juga individu
yang paham pentingnya menjaga keselamatan diri dan orang lain. Dalam jangka
panjang, budaya ini akan terbawa hingga ke tempat kerja, menjadikan mereka
tenaga kerja yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki etos
kerja dan kesadaran keselamatan yang tinggi.
Sudah
saatnya sekolah teknik menjadikan keselamatan sebagai standar yang tidak bisa
ditawar. APAR bukan lagi
pilihan, melainkan kebutuhan pokok di setiap ruang praktik. Pemerintah daerah,
dinas pendidikan, dan pihak sekolah harus bekerja sama untuk memastikan semua
sekolah memiliki sarana pemadam api yang cukup dan pelatihan penggunaan yang
memadai. Selain itu, evaluasi rutin terhadap sistem keselamatan harus dijadikan
agenda tetap, bukan sekadar respons setelah kejadian.
Refleksi dari semua ini sederhana namun mendalam: keselamatan bukan sekadar
alat atau prosedur, tetapi budaya yang harus dibangun bersama. APAR hanyalah
simbol kecil dari kesiapsiagaan yang lebih besar. Ia berbicara tentang
kepedulian, antisipasi, dan tanggung jawab. Ketika sekolah menjadikannya
sebagai bagian dari manajemen risiko, maka tidak hanya fasilitas yang aman,
tetapi juga jiwa pendidikan yang hidup di dalamnya.
Mari jadikan keselamatan sebagai prioritas, bukan hanya dalam dokumen,
tetapi dalam tindakan nyata. Mari hadirkan APAR di setiap ruang praktik, latih
siswa dan guru untuk menggunakannya, dan ciptakan sekolah teknik yang tidak
hanya hebat dalam prestasi, tetapi juga tangguh dalam menghadapi risiko. Sebab
sekolah yang aman adalah tempat terbaik untuk menumbuhkan generasi yang unggul
dan berdaya saing tinggi.
Penulis : Joko Mulyono, S.Pd,
Guru Listrik SMK Muhammadiyah 2 Cepu