- Posted by : Joko Mulyono
- on : August 02, 2025
Di
balik kelas yang nyaman, laboratorium yang berfungsi optimal, dan halaman
sekolah yang asri, terdapat peran vital dari sarana dan prasarana yang terawat
dengan baik. Dalam dunia pendidikan, keberadaan infrastruktur bukan hanya soal
bangunan dan peralatan, tetapi juga tentang bagaimana semua itu dijaga agar
tetap mendukung proses belajar mengajar secara berkelanjutan. Sayangnya, di
banyak sekolah, perawatan fasilitas sering kali menjadi urusan yang diabaikan
atau ditangani secara insidental. Perbaikan baru dilakukan ketika kerusakan
sudah parah, dan solusi yang diambil kerap bergantung pada bantuan dari luar
sekolah. Situasi ini bukan hanya tidak efisien, tetapi juga membuat sekolah
kehilangan kendali atas keberlangsungan fasilitas yang dimiliki.
Fakta
di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar perbaikan fasilitas dilakukan
secara mendadak. Ketika ada kebocoran atap, kerusakan saluran air, atau listrik
padam, barulah pihak sekolah bergerak memanggil tukang atau teknisi dari luar.
Pola semacam ini tidak hanya menyita waktu, tetapi juga menelan biaya tinggi
karena sifatnya yang darurat. Belum lagi, ketersediaan teknisi luar tidak
selalu bisa diandalkan untuk merespons cepat setiap saat. Hal ini menimbulkan
ketergantungan yang cukup besar dan membuat pihak sekolah tidak memiliki sistem
perawatan yang terstruktur.
Selain
itu, teknisi bengkel yang seharusnya fokus pada praktik pembelajaran siswa di
bidang teknik justru sering dilibatkan dalam tugas-tugas teknis di luar tugas
pokoknya. Saat ada kegiatan
sekolah seperti pentas seni, lomba, atau persiapan akreditasi, mereka
ditugaskan membantu instalasi listrik, perbaikan peralatan, atau bahkan
merapikan panggung. Akibatnya, fokus utama mereka untuk mendampingi siswa dalam
pelatihan menjadi terganggu. Ini bukan hanya merugikan proses pembelajaran,
tetapi juga membebani tenaga pendidik dengan tanggung jawab yang seharusnya
bisa ditangani oleh pihak lain.
Laboratorium komputer dan jaringan internet yang menjadi nadi teknologi
informasi di sekolah pun sering mengalami kendala. Perangkat keras yang aus,
kabel jaringan yang rusak, hingga software yang perlu pembaruan rutin sering
kali membutuhkan sentuhan teknisi luar. Di sinilah letak tantangan terbesar:
biaya yang mahal dan waktu tunggu yang tidak menentu. Padahal, dunia pendidikan
masa kini semakin bergantung pada teknologi, dan ketidakstabilan infrastruktur
digital bisa menjadi hambatan besar dalam penyelenggaraan kegiatan belajar
mengajar.
Menjawab semua tantangan tersebut, beberapa sekolah mulai menginisiasi
langkah konkret dengan merekrut tenaga khusus yang bertugas di bidang perawatan
dan perbaikan, dikenal sebagai tenaga Maintenance & Repair (MR). Tenaga MR
ini bukan sekadar tukang bangunan atau teknisi biasa. Mereka direkrut sebagai
bagian dari sistem pendukung pendidikan, dengan tugas utama menjaga agar
seluruh fasilitas sekolah berada dalam kondisi optimal. Kehadiran tenaga MR
menjadi solusi internal yang efisien dan berkelanjutan dalam menjaga kualitas
lingkungan belajar.
Peran tenaga MR meliputi perawatan berkala terhadap fasilitas umum seperti
ruang kelas, toilet, ruang guru, hingga laboratorium. Mereka juga bertugas
memastikan instalasi listrik, air, dan perangkat multimedia tetap berfungsi
dengan baik. Tidak hanya itu, dalam pengembangan peran mereka, banyak sekolah
memberikan tambahan tanggung jawab untuk membantu perawatan taman dan
lingkungan sekolah. Hal ini dilakukan melalui koordinasi yang baik antara
tenaga MR, petugas kebersihan, dan bagian kebon agar pekerjaan menjadi lebih
efisien dan tertata.
Agar pekerjaan tenaga MR berjalan optimal, sekolah mulai menyusun sistem
kerja yang terstruktur. Jadwal rutin untuk pengecekan fasilitas disusun
berdasarkan skala prioritas dan tingkat kerawanan kerusakan. Misalnya,
instalasi listrik dicek setiap minggu, sementara pengecekan bangunan dilakukan
sebulan sekali. Hasil dari pengecekan tersebut kemudian didokumentasikan dalam
laporan berkala, yang menjadi dasar evaluasi dan perencanaan anggaran. Dengan
sistem seperti ini, sekolah memiliki data yang valid untuk mengambil keputusan
terkait pemeliharaan fasilitas, tanpa menunggu kerusakan terjadi terlebih
dahulu.
Manfaat dari keberadaan tenaga MR sangat terasa. Fasilitas sekolah menjadi
lebih awet karena dirawat secara berkala, bukan hanya diperbaiki ketika sudah
rusak. Ruang kelas selalu bersih dan nyaman, laboratorium siap digunakan kapan
saja, dan taman sekolah selalu asri. Kondisi ini tentu menciptakan lingkungan
belajar yang kondusif bagi siswa dan guru. Lebih dari itu, kerusakan kecil yang
ditangani sejak dini dapat mencegah kerusakan yang lebih besar dan mahal di
kemudian hari.
Dari sisi anggaran, keberadaan tenaga MR juga membantu sekolah menghemat
biaya. Ketergantungan terhadap jasa teknisi luar yang biayanya tinggi bisa
dikurangi secara signifikan. Dana yang sebelumnya habis untuk perbaikan darurat
kini bisa dialihkan untuk pengembangan program pendidikan, peningkatan
kompetensi guru, atau pengadaan alat praktik siswa. Efisiensi ini menjadikan
pengelolaan sekolah lebih terarah dan berkelanjutan.
Kegiatan sekolah pun menjadi lebih terbantu. Saat ada acara besar, tenaga MR
siap membantu instalasi dan pengaturan teknis tanpa harus mengganggu jadwal
guru atau teknisi bengkel. Hal ini memungkinkan para pendidik untuk tetap fokus
pada tugas utama mereka mendampingi siswa. Tidak ada lagi distraksi antara
tugas mengajar dan kewajiban teknis, karena kini sudah ada pihak yang secara
khusus menangani kebutuhan tersebut.
Perlu dipahami bahwa tenaga MR bukan hanya sekadar petugas lapangan. Mereka
adalah bagian dari sistem pendukung pendidikan yang perannya tidak kalah
penting dengan guru dan tenaga administrasi. Dengan kompetensi teknis yang
memadai dan sistem kerja yang jelas, mereka menjadi garda depan dalam menjaga
keberlangsungan fasilitas pendidikan. Oleh karena itu, penting bagi sekolah
untuk tidak hanya merekrut, tetapi juga memberikan pelatihan dan pengembangan
keterampilan bagi tenaga MR agar mereka selalu siap menghadapi tantangan teknis
yang terus berkembang.
Kini
saatnya sekolah berpikir lebih strategis dalam pengelolaan sumber daya
internal. Investasi pada tenaga MR adalah langkah cerdas menuju kemandirian dan
efisiensi. Sekolah tidak lagi bergantung pada pihak luar, melainkan mampu
mengelola sendiri fasilitas yang dimiliki dengan dukungan tim yang solid dan
terstruktur. Ini bukan hanya tentang menghemat anggaran, tetapi juga membangun
sistem pendidikan yang tangguh dari dalam.
Pada
akhirnya, kenyamanan dan keamanan dalam proses belajar mengajar bukan hanya
tanggung jawab guru atau kepala sekolah semata. Semua elemen, termasuk tenaga
MR, memiliki kontribusi yang nyata dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang
sehat dan berkelanjutan. Dengan memberikan tempat yang layak dan peran yang
jelas bagi tenaga MR, sekolah telah mengambil langkah maju dalam memperkuat
fondasi pendidikannya. Maka, mari kita ubah cara pandang terhadap perawatan
fasilitas sekolah, dari yang semula reaktif menjadi proaktif. Karena sekolah
yang kuat bukan hanya ditandai oleh gedung yang megah, tetapi juga oleh sistem
yang terpelihara dengan baik oleh tangan-tangan andal dari dalam.
Penulis
: Joko Mulyono, S.Pd, Guru Listrik SMK Muhammadiyah 2
Cepu