- Posted by : Joko Mulyono
- on : February 19, 2026
Praktik Kerja Lapangan (PKL) adalah salah satu bagian terpenting dalam
pendidikan vokasi. Melalui program ini, siswa mendapatkan pengalaman langsung
di dunia kerja yang sesungguhnya. Mereka belajar mengaplikasikan teori yang
diperoleh di sekolah, beradaptasi dengan budaya kerja, dan mengasah
keterampilan teknis maupun soft skill yang dibutuhkan industri. Namun,
keberhasilan PKL tidak hanya bergantung pada seberapa baik siswa bekerja di
lapangan, melainkan juga pada bagaimana sekolah melakukan pembinaan dan
pengawasan atau monitoring. Monitoring menjadi kunci agar siswa tetap terarah,
menjaga kedisiplinan, serta memastikan kerja sama dengan Dunia Usaha dan Dunia
Industri (DUDI) berjalan harmonis.
Sayangnya, di lapangan, sekolah kerap menghadapi berbagai tantangan dalam
melaksanakan monitoring. Keterbatasan anggaran sering menjadi penghambat utama.
Monitoring PKL yang ideal biasanya memerlukan kunjungan langsung ke lokasi
industri tempat siswa ditempatkan, namun biaya transportasi, akomodasi, dan
operasional lainnya tidak selalu tersedia dalam jumlah memadai. Akibatnya,
tidak semua guru dapat melakukan kunjungan secara rutin.
Selain itu, beban mengajar guru yang tinggi menjadi tantangan tersendiri.
Guru yang sudah memiliki jadwal mengajar padat sering kali kesulitan meluangkan
waktu untuk melakukan monitoring ke lapangan. Padahal, tanpa pemantauan yang
baik, potensi masalah seperti ketidakhadiran siswa, kendala teknis, atau
masalah komunikasi dengan pihak DUDI bisa terlewatkan.
Ada pula kebutuhan khusus dari jurusan tertentu, seperti jurusan listrik di
SMK Muhammadiyah 2 Cepu, yang memerlukan dokumentasi visual kegiatan PKL.
Dokumentasi berupa foto atau video ini tidak hanya berguna sebagai arsip
sekolah, tetapi juga menjadi bahan publikasi di media sosial untuk
mempromosikan kerja sama dengan DUDI dan menunjukkan kepada masyarakat luas
bahwa siswa benar-benar mendapatkan pengalaman kerja yang relevan. Sayangnya,
keterbatasan sumber daya membuat pengumpulan dokumentasi visual secara langsung
menjadi sulit dilakukan.
Kombinasi dari tantangan tersebut menuntut adanya solusi yang kreatif,
efektif, dan efisien. Sekolah tidak bisa hanya mengandalkan metode monitoring
tradisional yang mengharuskan guru hadir di lokasi. Diperlukan cara yang lebih
fleksibel, mampu menjangkau siswa di berbagai tempat, dan tetap memberikan
hasil yang optimal. Dari sinilah muncul gagasan untuk memanfaatkan teknologi
yang sudah akrab digunakan oleh semua pihak, yaitu aplikasi WhatsApp.
Langkah pertama yang dilakukan adalah pembentukan grup WhatsApp khusus PKL.
Grup ini menjadi ruang komunikasi bersama yang beranggotakan guru pembimbing
PKL, siswa peserta PKL, dan pimpinan atau perwakilan DUDI tempat siswa
ditempatkan. Tujuan dari grup ini adalah untuk mempermudah komunikasi dan
pemantauan kegiatan secara real-time. Dengan adanya grup ini, jarak dan waktu
tidak lagi menjadi kendala besar, karena setiap pihak dapat saling bertukar
informasi kapan saja.
Dalam grup ini, guru pembimbing dapat memantau perkembangan siswa secara
langsung melalui laporan yang dikirimkan setiap hari. Pihak DUDI juga dapat
memberikan masukan atau melaporkan permasalahan yang terjadi tanpa harus
menunggu kunjungan dari pihak sekolah. Sementara itu, siswa memiliki jalur
komunikasi resmi untuk melaporkan kegiatan mereka dan menyampaikan kendala yang
dihadapi. Transparansi tercipta karena semua pihak yang terlibat dapat melihat
informasi yang disampaikan di grup.
Langkah kedua adalah memanfaatkan media yang dimiliki siswa untuk
mendokumentasikan kegiatan mereka. Siswa diminta secara berkala membagikan
video kegiatan PKL di grup WhatsApp. Video ini berfungsi ganda: pertama,
sebagai dokumentasi visual untuk memastikan siswa benar-benar mengikuti
kegiatan sesuai bidangnya; kedua, sebagai bahan publikasi di media sosial
sekolah. Publikasi ini menjadi sarana promosi yang efektif, baik untuk
memperkenalkan kualitas siswa maupun membangun citra positif sekolah dan mitra
DUDI.
Dengan cara ini, kebutuhan jurusan listrik untuk memperoleh dokumentasi visual
kegiatan siswa dapat terpenuhi tanpa harus mengirim tim khusus untuk mengambil
gambar di lokasi. Siswa dilatih untuk mengambil video yang jelas dan
informatif, sehingga guru dan pihak sekolah bisa mendapatkan gambaran yang
cukup detail tentang kondisi dan aktivitas di lapangan.
Langkah
ketiga adalah memanfaatkan grup WhatsApp sebagai saluran distribusi informasi
resmi. Segala bentuk informasi penting, mulai dari pemberitahuan ketidakhadiran
siswa, laporan aktivitas harian, hingga pengumuman resmi dari sekolah,
disampaikan melalui grup ini. Cara ini terbukti efisien, karena informasi dapat
diterima semua pihak secara serentak, mengurangi risiko miskomunikasi, dan
memastikan bahwa pesan yang disampaikan bersifat transparan.
Hasil
dari strategi ini cukup memuaskan. Meskipun
monitoring dilakukan secara online, kualitas pembinaan tidak menurun. Guru
dapat merespons cepat jika ada masalah, karena laporan dan dokumentasi diterima
secara real-time. Siswa pun menjadi lebih bertanggung jawab dalam melaporkan
kegiatan mereka, karena tahu bahwa aktivitasnya dipantau langsung oleh guru dan
pihak DUDI.
Kualitas komunikasi antara sekolah dan DUDI juga meningkat. Grup WhatsApp
menjadi wadah yang memudahkan terjadinya komunikasi dua arah yang responsif.
Pihak industri merasa lebih dihargai karena sekolah hadir secara virtual dan
tetap terlibat dalam pembinaan siswa. Hubungan kerja sama pun menjadi lebih
terbuka dan harmonis, yang pada gilirannya memperkuat kepercayaan industri
terhadap sekolah.
Manfaat lainnya adalah tersedianya dokumentasi video yang berkualitas untuk
keperluan publikasi. Video kegiatan PKL yang dibagikan siswa menjadi konten
menarik untuk media sosial sekolah. Hal ini tidak hanya mempromosikan kegiatan
PKL, tetapi juga memperkenalkan mitra DUDI kepada masyarakat luas. DUDI pun
diuntungkan karena mendapatkan promosi positif secara gratis, sementara sekolah
memperkuat branding sebagai lembaga yang mampu menjalin kerja sama profesional.
Pendekatan ini juga membentuk karakter siswa. Dengan tanggung jawab melaporkan
kegiatan melalui video dan laporan harian, siswa belajar disiplin, jujur, dan
mampu mengomunikasikan aktivitas mereka dengan baik. Mereka juga terlatih untuk
berpikir kreatif dalam mendokumentasikan pekerjaan, yang bisa menjadi
keterampilan tambahan di luar kompetensi teknis jurusannya.
Pada akhirnya, pembentukan grup WhatsApp untuk monitoring PKL bukan hanya
sekadar penggunaan teknologi komunikasi, tetapi sebuah strategi pengelolaan
pembinaan yang hemat biaya, fleksibel, dan berdampak besar. Sekolah dapat tetap
menjaga kualitas PKL meskipun menghadapi keterbatasan anggaran dan beban kerja
guru yang tinggi.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya bukan alasan
untuk menurunkan standar pembinaan siswa. Justru, kondisi tersebut bisa menjadi
pemicu lahirnya inovasi. Dengan memanfaatkan teknologi yang sederhana dan
familiar, sekolah dapat mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas pengawasan
terhadap siswa di dunia kerja.
Ke depan, model ini dapat dikembangkan lebih jauh, misalnya dengan
menambahkan format laporan video mingguan, memanfaatkan aplikasi penyimpanan
berbasis cloud untuk arsip dokumentasi, atau mengintegrasikan fitur pelacakan
lokasi untuk memastikan kehadiran siswa di tempat PKL. Dengan
demikian, monitoring PKL akan semakin terukur, transparan, dan profesional,
sekaligus tetap hemat biaya.
Dengan
koordinasi yang baik, keterlibatan aktif siswa, dan pemanfaatan teknologi
secara kreatif, SMK Muhammadiyah 2 Cepu membuktikan bahwa pembinaan siswa di
dunia kerja bisa tetap berjalan optimal meski menghadapi keterbatasan sumber
daya. PKL bukan hanya ajang belajar bekerja, tetapi juga wadah membentuk
karakter, membangun jaringan profesional, dan memperkuat reputasi sekolah di
mata industri maupun masyarakat.
Penulis
: Joko Mulyono, S.Pd, Guru SMK
Muhammadiyah 2 Cepu
.jpeg)